Stop Running Business and Start Building Business

Updated: Mar 18





“Jangan hanya Menjalankan bisnis, tapi mulailah membangun bisnis!”


Memang apa bedanya?

Pernahkah anda merasa jika bisnis anda stagnan? Walaupun memiliki omset yang tinggi, namun anda merasa bahwa bisnis tersebut seharusnya masih bisa berkembang lebih besar lagi.


‘Tapi apa yang harus saya lakukan?’


Rata – rata, 95 % pengusaha di Indonesia hanya bertumbuh 5 - 10%. Bahkan yang bisa tumbuh mencapai 20% hanya sebagian kecil saja, apalagi yang bisa mencapai 30%. Karena mayoritas mereka bertumbuh sesuai dengan pertumbuhan ekonomi. Apabila pertumbuhan ekonomi sedang naik, maka pertumbuhan mereka akan ikut naik, tapi jika pertumbuhan ekonomi sedang kurang baik, maka perekonomian mereka juga ikut menurun sesuai dengan industrinya.

Misalnya, jika mereka berada di bidang genset dan industri genset sedang bagus, maka omset dan profit mereka akan ikut naik. Namun sebaliknya, jika sedang tidak bagus, maka omset dan profit mereka juga akan menurun.

Begitu pula dengan bisnis kopi atau minuman kekinian lain yang beberapa waktu belakangan tengah hype di pasaran. Bisa dikatakan, mereka adalah tipe – tipe yang hanya mengikuti ombak, mengikuti ekonomi. Kalaupun bisnis mereka tumbuh, kenaikannya bisa tiba – tiba mencapai 30% bahkan 100%. Itulah yang disebut sudden demand atau trending bisnis.

Lalu jika kita mengikuti booming industry dan tiba – tiba bagus, pertanyaan paling pentingnya adalah apakah kenaikan omset ataupun pertumbuhannya itu disebabkan karena kehebatan pengusaha tersebut dalam mengelola bisnisnya? atau memang karena faktor keberuntungan, lantaran mereka berada di industry yang tepat di saat ekonominya sedang bagus?

Banyak orang punya pendapat yang berbeda. Tapi kenyataannya, sebagian besar pertumbuhan perekonomian mereka naik, biasanya karena industrinya dan ekonominya yang sedang tumbuh atau sedang populer. mayoritas bukan karena kehebatan pengusahanya.

Jika dicermati lagi, bagaimana bisa para kompetitor yang mungkin pengalamannya lebih sedikit, baik dari segi usia pemilik usahanya yang masih muda, maupun dari umur perusahaannya yang baru beberapa tahun berdiri, bisa tumbuh jauh lebih cepat dan lebih besar dengan jumlah karyawan, gudang, ruko serta pabrik yang bertambah dengan begitu pesat?

Jawabannya adalah karena mereka mengerti perbedaan antara running bisnis dan building bisnis. Running berarti hanya menjalankan bisnis, sementara building adalah membangun bisnis supaya lebih berkembang lagi.

Apabila anda ingin membuat bisnis anda tumbuh dengan pesat, maka bacalah artikel ini sampai habis. Karena tidak hanya akan menjabarkan perbedaan running bisnis dan building bisnis, artikel ini juga akan membahas bagaimana dari menjalankan (running) bisnis, juga bisa naik tingkat jadi membangun (building) bisnis.


Lalu apa yang dimaksud menjalankan bisnis?


Seorang pengusaha rata – rata menjalankan keseharian atau kesibukannya dengan melakukan rutinitas dalam bisnis mereka. Seperti sibuk menjual, mereka sibuk menjadi sales, sibuk mengangani customer. Biarpun mereka memiliki SPG atau salesman atau sales telemarketing atau sales staff lainnya, tapi kebanyakan merekalah yang masih mencari customer dan mengelola semuanya.

Disisi lain, mungkin anda tidak sibuk ke customer, tapi anda sibuk di bagian operasional perusahaan. Banyak sekali pekerjaan yang anda tangani dari hari ke hari, bulan ke bulan, tahun ke tahun dan selalu melakukan rutinitas yang sama setiap harinya.

Entah pada bagian pengiriman, packing, penerimaan, bongkar container atau anda bisa juga sibuk dengan administrasi perusahaan, purchasing, bahkan produksi yang mengurus operator keluar masuk, jadwal produksi, pengiriman, pemesanan barang dari supplier, barang apa yang harus dibeli, berapa jumlahnya.

Biasanya, pengusaha yang terlibat langsung dalam kegiatan sehari – hari di bisnisnya, pertumbuhan bisnis mereka hanya sekitar 5-10% dan maksimal 20%. Jika bisnis anda baru berjalan satu tahun atau dua tahun, bisnis anda memang cepat bertumbuh, tapi jika bisnis anda sudah berumur 5 tahun dan lebih, anda akan merasa pertumbuhan bisnis anda sesuai dengan waktu yang anda miliki. Anda sudah mengorbankan waktu 24 jam dan omsetnya mentok sesuai dengan waktu anda bekerja.


Maka itulah perbedaan besarnya.


Pengusaha yang running bisnis, rata-rata pertumbuhannya hanya mengikuti perekonomian, yakni sebesar 5-10% saja. Bila customer naik 2x lipat atau omset naik hingga 3x lipat. mereka akan langsung merasa tidak mampu karena beban kerja yang bertambah dan waktu istirahat yang semakin berkurang. Itu adalah salah satu ciri pengusaha yang running bisnis.


Lalu apakah ada yang salah dengan running bisnis?

Tidak ada yang salah.


Banyak pengusaha yang senang menjalani bisnisnya dengan cara seperti itu. Bagi mereka, hal itu sudah cukup walaupun pertumbuhan hanya mencapai 5-10%. Tapi, jika ada cara yang lebih baik, cara yang lebih enak, cara yang lebih asyik dalam menjalankan usaha, tidakkah anda tertarik?

Mungkin anda pernah melihat toko lain, pabrik lain, gudang lain, bisnisnya jalan sendiri tapi semakin lama semakin besar, padahal owner-nya sering jalan - jalan. Sementara anda yang setiap hari jaga toko, jaga pabrik, jaga gudang, kok pertumbuhannya begitu – begitu saja?

Bagi anda yang mulai berpikir, bagaimana cara agar bisnis dapat berkembang namun anda sebagai owner tetap memiliki waktu untuk diri sendiri dan keluarga, ada beberapa indikator yang harus diperhatikan. Karena kebanyakan pengusaha yang running bisnis, memiliki satu masalah besar. Mereka punya uang, tapi tidak punya waktu atau merasa waktunya selalu kurang.


Lalu apa saja indikator yang menunjukkan bahwa anda sedang running bisnis? Ada 3 indikator.


  1. Anda adalah owner yang paling pintar mengerjakan banyak hal atau bahkan semua hal di dalam bisnis anda, di perusahaan anda.

  2. Waktu anda 90% habis dirutinitas seperti hal – hal teknis perusahaan. Ingat! pekerjaan yang teknis memang dibutuhkan untuk operasional perusahaan, membuat peruahaan kita berfungsi, berjalan, tapi belum tentu bisa membuat perusahaan berkembang pesat. Berkembang pesat yang artinya perusahaan memiliki cabang di seluruh Indonesia. Memiliki pasar – pasar ekspor. Hingga membuat kita mempunyai tambahan bisnis lainnya.

  3. Anda punya masalah yang berulang- ulang. Artinya anda selalu punya masalah yang sama dari tahun ke tahun. Kesulitan mencari tim yg tepat, salesman selalu keluar masuk, kesulitan mencari manager dan direktur yang tepat, kebocoran (fraud) di dalam bisnis, sistem SOP bisnis yang kurang berjalan, keputusan-keputusan operasional atau keputusan penting di bisnis harus tergantung anda, bahkan sampai cabang perusahaan anda tidak bertumbuh. Mungkin anda sudah punya tiga cabang, tetapi 2 cabang tidak bisa sebaik 1 cabang yang anda pegang sendiri.

Apakah anda sedang mengalami salah satu dari ketiga indikator diatas? Atau justru anda tengah mengalami ketiga hal tersebut? apakah anda menikmatinya?


Jika jawaban anda adalah ya, maka sekarang coba anda bayangkan, bila suatu hari anda sakit keras sehingga harus berobat keluar negeri dan meninggalkan bisnis anda selama berbulan – bulan. Lalu siapa yang akan menjalankan bisnis anda? Mungkin anda bisa meninggalkan toko anda selama satu hari, satu minggu, bahkan satu bulan. Tapi setelah itu? Anda yakin toko/kantor/Gudang/pabrik anda masih berjalan seperti biasa?

Tidak ada salahnya menjalani running bisnis, Hanya saja kita harus berpikir Panjang. Jika anda menjalaninya sampai tua, lalu anda berikan ke anak anda. Belum tentu anak anda mau meneruskan bisnis tersebut. Melihat anda yang bekerja begitu keras hingga tidak memiliki waktu untuk keluarga bahkan untuk dirinya sendiri, hal itu bisa saja membuatnya berpikir lebih baik bekerja pada orang lain.

Bukan bermaksud tidak menghargai bisnis orang tua, tapi mereka hanya tidak ingin mengulangi hal yang seperti anda lakukan.


Lalu, ada pertanyaan,

“bagaimana bila ada seorang pengusaha yang memiliki keahlian dari sisi softskill? Hebat dalam leadership, memimpin orang, ahli manajemen, rekrutmen, dan dia lebih pintar daripada karyawan dan manajernya, apakah hal itu termasuk running bisnis?"


Jawabannya adalah ya! Tapi itu menunjukkan bahwa anda sudah masuk ke tahap building bisnis, bukan lagi sekedar running bisnis. Karena running bisnis lebih menguasai hal – hal teknis, seperti jenis barang, penjualan, operasional produksinya seperti apa. Sementara building bisnis, cenderung pada keahlian tentang hal - hal yang berhubungan dengan bagaimana membesarkan bisnis.

Tapi itu baru tahap awal. Setelah anda running, lalu building, anda akan memasuki tahap ketiga. Dan inilah yang akan dibahas selanjutnya.


Menurut Coach Yusman, ketika seorang pengusaha running bisnis, ia bisa disebut sebagai seorang business operator. Tapi Ketika sudah naik tingkat menjadi building bisnis. Maka, barulah ia disebut sebagai business owner. Karena operatornya adalah tim anda, karyawan anda. Setelah itu kemudian anda bisa naik level menjadi investor bisnis.

Analoginya seperti ini untuk business operator, jika anda punya kos – kosan dan anda adalah seorang bisnis operator, anda adalah orang yang menjaga kos – kosan tersebut. Mulai dari opersional kos sehari-hari, terima uang kos, lalu jika ada penghuni kos yang berkelahi di tengah malam dan mengganggu penghuni kos lainnya, anda harus bangun tengah malam untuk mengurus hal tersebut.

Tapi jika anda adalah business owner dari bisnis kos-kosan, anda memiliki karyawan untuk operasional bisnis tersebut. Tapi jika ada masalah operasional, contoh lampu yg rusak, pompa air yg rusak, penagihan uang kost, penghuni kost yang bertengkar, karyawan anda bisa menangani masalah operasional. Walaupun anda sudah di level business owner bisnis kost, jika ada kasus yang besar di operasional contoh penghuni kost menggunakan narkoba dan ditangkap polisi, anda sebagai pemilik kos-lah akan diperiksa sebagai saksi, anda sebagai owner tetap terlibat

Namun kedua hal tersebut berbeda dengan business investors, dimana anda punya kos – kosan yang sama, tapi anda perlakukan sebagai salah satu investasi anda. Ketika ada masalah operasional dan bisnis, anda punya manajer dan karyawan yang mengangani semua masalah yang ada.

Apabila sudah sampai level investor, cara anda melihat bisnis sudah berbeda. Mana perusahaan yang paling bagus? Paling jelek? Paling berpotensi? Perusahaan mana yang lebih baik dijual karena tidak sesuai dengan target 5 tahun ke depan? Tingkat business investor memiliki banyak waktu serhingg bisa memikirkan bagaimana satu per satu perusahaannya bisa bertahan dan berkembang 5 tahun sampai 10 tahun ke depan.

Kebanyakan pengusaha di berbagai bidang industry hanya sampai business operator dan sedikit yang di tingkat business owner, serta lebih sedikit di tingkat business investor.

Sedangkan dibanding dengan business investor atau business owner, business operator masih fokus memikirkan bagaimana ia lebih banyak pelanggan untuk bulan ini dan bulan depan, bagaimana pengiriman 1 minggu ini lebih tepat waktu, bagaimana stock barang terisi benar jumlah dan jenisnya, dan hal operasional lainnya. Di sisi lain, business owner fokus memikirkan bagaimana ia bisa menambah 100 pelanggan baru untuk 6 bulan sampai 12 bulan ke depan, apa strategi jangka pendek hingga jangka Panjang, bagaimana manager dan tim kerja bisa bekerja menangani semua hal teknis dan opersional bisnis sehari-hari, menjangkau pelanggan di luar pulau, dan bagaimana bisa ekspansi buka cabang di kota lain serta inovasi produk/jasa untuk berkembang terus dan profit margin bisa meningkat dari tahun ke tahun.

Sementara itu, business investor memikirkan bagaimana ia bisa menambah bisnis baru atau mengembangkan bisnis yang ada menjadi TOP 3 di Indonesia atau TOP 1. Bisnisnya menjadi lebih banyak, bertambah besar, bertambah cabang sampai bisa ekspor, dan bahkan bagaimana membuat nilai jual perusahaan lebih tinggi sehingga bisa dijual dan pensiun dengan uang Cash yang besar sekali.


So, beda pemikiran, beda mindset. Dan anda di level mana sekarang?


Lalu muncul pertanyaan, “apakah salah bila saya tetap di bisnis operator dan senang melakukan itu?”

Tidak ada yang salah. Hanya tergantung, apakah anda mau upgrade atau mau naik level?


Anda tidak harus menjadi business investor, tapi kembali lagi, apa mimpi anda? Apakah mau hanya jadi operator, apakah mau naik jadi owner atau mau jadi investor?


Setelah paham apa itu running bisnis, maka kita akan masuk pada apa itu building bisnis?

Building business atau membangun bisnis adalah ketika anda fokus membuat bisnis berkembang pesat dan menjadi lebih besar. Bukan hanya untuk 1 atau 2 bulan kedepan. tapi bagaimana bisa berkembang 2-3 kali lipat atau dalam 3-5 tahun ke depan bisa naik 10 – 30 kali lipat. Jadi bukan lagi naik 20%, 30% atau 50% tapi naik berkali lipat dalam 5 tahun ke depan. Sedangkan competitor sibuk rutinitas bisnis dan sibuk hanya menaikkan bisnisnya 10% sd 30% per tahun.


Lalu, apa indikator bahwa anda sedang membangun bisnis?

  1. Apabila anda sudah setiap tahun fokus pada pengembangan produk/jasa/merk baru.

  2. Anda sudah mulai berpikir untuk menjangkau market seluruh Indonesia. Bukan lagi hanya memikirkan pelanggan di kota Jakarta atau pelanggan di sekitar kota anda berada, tetapi bagaimana menjangkau pelanggan di seluruh Pulau Sumatera, Kalimantan sampai seluruh Indonesia. Setelah itu akhirnya bagaimana ekspor ke negara lain.

  3. Anda sedang membentuk & memperkuat tim manajemen anda. Anda bukan lagi orang yang menjalankan operasional bisnis sehari – hari. Tapi anda sudah mulai memiliki program untuk membentuk orang – orang yang bisa membantu anda menjalankan operasional dan membantu memikirkan strategi perkembangan perusahaan.


Lantas apakah ketiga hal tersebut sudah anda lakukan?


Lalu selanjutanya, bagaimana dari running business ini bisa menjadi building bisnis? Ada 6 langkah yang harus anda perhatikan.


a) Keuangan ( Financial )

Tidak boleh ada kebocoran di keuangan. Salah satu yang paling disayangkan adalah semakin besar perusahaan, biasanya akan ada kebocoran keuangan karena kebanyakan pengusaha tidak memiliki background dibidang keuangan. Hanya mengerti bagaimana menjual, teknis barang, handle customer, sehingga ketika mereka besar, keuangan mereka bocor dibelakang. Entah barang hilang, entah kebocoran cash flow, customer tidak bayar, atau bahkan di selundupkan oleh karyawan sendiri.

Tapi keuangannya bukan hanya masalah bocor, tapi juga bagaimana kita mengetahui, sebenarnya bisnis kita untung atau tidak? Itu adalah langkah pertama. Selain itu kita juga harus tahu persis berapa keuntungan yang kita dapat. Kita harus punya laporan keuangannya. Tapi bukan hanya sekedar punya, melainkan punya laporan keuangan yang valid/ benar.

Itulah mengapa sebagai pengusaha, kita juga harus belajar cara membaca dari kacamata pengusaha, bukan dari kacamata akutansi. Hal ini penting. Karena membaca dan memeriksa laporan keuangan bukan tugas manajer, melainkan tugas anda sebagai owner. Karena anda jadi GM/CEO di perusahaan anda. Anda harus membuat keputusan berdasarkan laporan keuangan tersebut.

Ada 19 indikator terpenting dalam laporan keuangan yang anda harus tahu. Sehingga, anda bisa jelas mengetahui kesehatan, resiko, tingkat keuntungan, apa yg sudah bagus, dan apa yang kurang bagus di dalam bisnis anda melalui 19 indikator ini. Materi 19 Indikator terpenting di laporan keuangan untuk pengusaha akan dibahas lengkap, bila anda mengikuti program private coaching dengan Coach Yusman ataupun mengikuti acara workshop 2 Hari yang bertajuk ‘Financial Mastery’ yang akan diselenggarakan. Untuk mengetahui jadwalnya bisa menghubungi 08119391515

b) Operational Consistency

Bagaimana anda memastikan bahwa produk, jasa, dan pelayanan perusahaan konsisten setiap hari, setiap minggu, bulan, dari sekarang sampai bertahun - tahun kemudian? Dan konsisten ini tidak bergantung hanya pada karyawan senior ataupun tergantung dengan owner perusahaan. Tapi bagaimana konsistensi ini bisa berjalan karena sistem perusahaan dan bukan pada orang. Kebanyakan konsisten bisnis tergantung oleh orangnya. Bila ada owner, pelayanannya bagus, kualitas produknya benar. Tapi jika ownernya tidak hadir, konsistensi tersebut hilang. Di tahap operasional consistency, kita ingin memastikan bahwa ada atau tidak adanya owner di resto/toko/Gudang/kantor/pabrik, apakah yang mengerjakan adalah karyawan baru atau lama, semua produk, jasa, dan pelayanan sama dan konsisten terus sesuai standar yang telah ditentukan.

Misalnya saat anda pergi ke restoran fast food, apakah anda pernah merasa jika orang yang melayani anda adalah karyawan baru? Anda mungkin tidak menyadarinya, karena servis yang mereka berikan semua sama, terlepas dari karyawan baru atau karyawan senior. Begitu juga dengan produknya, rasa masakannya konsisten sama terlepas anda makan di pagi hari, siang hari, malam, hari kerja, hari libur, dan konsisten semua cabang.

Banyak orang yang mengira, dengan menempatkan ‘Karyawan tangan-kanan’ sudah bisa menghasilkan konsistensi di operasional bisnis. Ada benarnya, tetapi bagaimana jika tiba – tiba orang tersebut sakit atau meninggal? Apakah bisnis tersebut akan tetap jalan dan konsisten? Apakah jangan-jangan konsistensi operasional perusahaan kita bergantung pada ‘tangan-kanan’ dan bukan pada sistem perusahaan?

c) Destination

Anda mau kemana? Apa visi anda dalam bisnis? Goals tiga bulan ini apa? Goals tahun ini apa? Goals tahun depan apa? Nah, Goals atau visi ini bukan masalah target secara keuangan saja. Bukan hanya masalah omset penjualan harus naik 20%, profit naik 30%, margin naik, cash flow jadi lebih bagus. Tetapi begitu banyak goals yang bisa kita tetapkan di dalam perusahaan.

Apa goals cash flow, apa goals penagihan, apa goals produksi, Apa goals di kepuasan pelanggan, apa goals di dalam sales team, apa goals di manajemen tim, apa goals di dalam marketing online saya. Begitu banyak goals yang harus kita set.

Jangan sampai membuat goals/target bisnis (setting goals) hanya karena supaya ada target saja, tetapi buatlah & tentukan target bisnis yang bisa sesuai dan mendukung visi perusahaan. Dari sana kita harus tarik mundur dari visi ke tahun ini, apa yang mau dicapai sehingga 10 tahun ke depan, jalurnya sama. Jangan visinya ke kiri, goalsnya ke kanan. Hanya karena supaya punya target, karena kata orang harus punya target. Ini penting.

d) Niche

Dikenal juga dengan segmentasi. Tujuannya adalah bagaimana agar omset bisa naik dan stabil. Supaya tidak terjadi momen dimana hari ini omset naik, besoknya turun. So, Langkah – Langkah awalnya apa saja?


1.Cari USP (unique selling point/propotitions)

Bentuk keunikan. Apa yang berbeda dari produk/ jasa anda. Kenapa menjadi unik ini penting? Karena dengan ini kita bisa menaikkan profit dan margin kita. Serta supaya kita bisa keluar dari peperangan harga dengan competitor. Ada Langkah-langkah yang perlu dilakukan sehingga kita bisa menemukan USP dari bisnis kita, dan Langkah-langkah itu akan dibahas secara mendetail di dalam program private coaching dengan Coach Yusman, sehingga anda bisa dibantu dalam memikirkan & membentuk USP ini.


2.10 by 10

Jika anda diminta untuk memilih,

A. Anda menerima uang cash 100 juta dari satu orang

B. Anda menerima uang cash 10 juta dari 1 orang, tetapi total ada 10 orang yang memberikan masing-masing 10 juta, sehingga totalnya juga 100juta.

mana yang akan anda pilih?

Ingin tahu jawabannya dan bagaimana jawaban ini bisa merubah bisnis anda? Maka tontonlah video yang disematkan di akhir artikel ini sampai habis agar anda mengerti apa saja konsekuensi dari setiap pilihan diatas.


e) 5 Ways

Rumus ini sudah terbukti selama 15 tahun selama Coach Yusman meng-coaching pengusaha. Bagaimaan mereka bisa mendapatkan customer, omset, keuntungan bisnis secara konsisten. Bagaimana mereka bisa membuat sistem penjualan di dalam sales tim mereka. Topik ini akan khusus dibahas dalam artikel selanjutnya. Ini sangat penting karena didalam ActionCoach, kami memiliki 295 strategi untuk membuat customer, profit dan omset anda naik.

f)Leverage (Daya Ungkit)

Bagaimana kita bisa membangun sistem. Bagaimana kita sebagai pengusaha bisa kerja lebih sedikit & lebih mudah tetapi dapat hasil yang lebih banyak? Dengan membangun sistem perusahaan.


Lalu apa itu sistem perusahaan?


Ada 11 komponen yang harus ada di dalam sistem perusahaan. Tidak sedikit perusahaan yang memiliki Sertifikat ISO 9001 ‘Quality Management’ namun sistem di dalam perusahaan masih berantakan. Sering kali ini terjadi karena implementasi oleh tim kerja tidak tepat, bukan karena salah dari sertifikasi ISO 9001-nya.

Apa saja 11 komponen untuk membentuk sistem perusahaan yang bisa berjalan baik bahkan di perusahaan kecil sampai dengan perusahaan besar? Bahkan untuk perusahaan yang manajemennya masih tradisional & konvensional, 11 komponen ini ada dibahas detail & lengkap melalui 2 hal, yaitu pertama di program private coaching Coach Yusman dan di acara workshop 2 hari yang membahas lengkap 11 komponen beserta contoh kasus, template dan pengalaman asli implementasi sistem di puluhan perusahaan Indonesia.

g) Tim Manajemen

Kehadiran tim manajemen bukan lagi hanya sekedar membantu anda untuk mengekseskusi strategi tetapi juga melakukan perencaan (planning) strategi perusahaan dalam mencapai target. Dengan semakin besarnya perusahaan anda, semakin dibutuhkan tim manajemen dengan tingkat jabatan seperti supervisor, manajer, general manager, direktur. Karena semakin besar bisnis anda, tidak akan mungkin anda bisa mengurus semuanya sendiri.

Coach Yusman membantu pengusaha untuk membentuk tim manajemen dari NOL Besar sampai lengkap. Dari sisi rekrutmen, rancangan struktur organisasi yang tepat untuk ukuran perusahaan dari kecil hingga besar, sistem kompesansinya, cara memimpim & mengatur tim manajemen, dan banyak hal lain yang penting untuk bisa berhasil membentuk tim manajemen.

h) Duplikasi & Sinergi

Jika semua Langkah-langkah yg disebut diatas ini sudah terpenuhi, maka langkah selanjutnya adalah duplikasi. Bagaimana mengembangkan 2 - 3 cabang pertama dengan sistem kerja & operasional yang baik, bagaimana agar anda bisa membuka cabang sebanyak mungkin dan terkontrol setiap cabangnya. Bahkan, setelah adanya kehadiran cabang-cabang kantor/Gudang/pabrik/toko/resto, anda sebagai owner malah memiliki waktu kerja yang lebih santai tetapi hasil keuntungan perusahaan lebih banyak. Itulah kenapa perlu dibangun 4 tahapan seperti yang sudah disebutkan di awal.

i) Results

Setelah semua terlaksana, barulah di step ini anda mulai menjadi business investor. Di level ini anda sudah memiliki uang yang cukup banyak. Waktu yang sangat banyak untuk berpikir dan melakukan strategi bisnis ke depannya.


Lalu apakah semua itu sudah terbukti?


Jawabannnya tentu! ada banyak cerita keberhasilan para klien yang telah dicoaching oleh Coach Yusman. Anda dapat mendengar cerita kesuksesan mereka dalam video di bawah ini. Silahkan tonton sampai habis.


Salam Sukses!


Stop Running Start Build Business :

Testimonial Pengusaha yang di Coaching Coach Yusman :

6 views0 comments